Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan wanita dan menjadikan kamu berbagsa-bangsa dan bersuku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi maha Mengenal.
Dalam ayat di atas, jelas sekali bahwa ternyata keragaman adalah suatu keniscayaan atau kehendak Illahi. Allah menghendaki keragaman dan menolak ketunggalan (monolitik). Secara eksplisit, Allah mengatakan misi dari keadaan ini (keragaman) adalah agar setiap orang, setiap umat, setiap suku, dan setiap bangsa agar saling mengenal satu sama lain sehingga tali persaudaraan dan ikatan sosial lebih dapat terjalin dengan erat.
Dalam ayat di atas, Quran mempergunakan kata "ta'arafu" yang kemudian melahirkan istilah lain dalam bahasa Arab, ta'aruf. Ta'aruf, jika kita lihat dari sudut pandang kebahasaan, berasal dari kata kerja "ta'arafa" yang mengikuti pola "tafa'ala". Pola ini biasanya mengandung makna "resiprokalitas". Kata kerja "ta'arafa" bukan sekedar bermakna "mengetahui" atau "mengenal" yang dilakukan oleh satu pihak, tetapi dua belah pihak. Sehingga arti yang tepat untuk kata itu adalah "saling ingin mengetahui dan mengenal". Dalam kata "ta'aruf" ada suatu tindakan resiprokal dari dua belah pihak yang saling hendak mengetahui yang lain. Ta'aruf bukan indifferentisme. Ta'aruf adalah inisiatif aktif dari beberapa pihak untuk saling mengenal, dan tidak membiarkan, cuek, tak mau tahu tentang yang lain.1
Dalam kaitannya dengan sesama umat Muslim, maksud dari ber ta’aruf atau saling mengenal ini tentu saja dapat dengan mudah direalisasikan tanpa adanya suatu hambatan. Tetapi tatakala konsep Quran mengenai “perkenalan” ini akan direalisasikan dalam skala yang lebih jauh lagi-- lintas iman, misalkan—terjadi suatu kendala yang dirasakan esensial bagi orang-orang tertentu. Kendala itu adalah masih adanya ketakutan mengkotori aqidah seorang Muslim atau dapat mengantarkan pada pengkaburan akidah.
Benarkah apabila seorang Muslim mengenal orang-orang Kristiani dapat mengkaburkan atau bahkan dapat mengkotori akidahnya? Walaupun itu hanya dalam konteks mu’amallah? Pertanyaan lebih spesifiknya lagi adalah : haramkah seorang Muslim mengucapkan selamat Natal kepada orang Kristiani, demi menjaga kerukunan?
Natal adalah perayaan bagi lahirnya Isa a.s (Yesus dalam versi Kristen), salah satu dari 25 nabi yang wajib di ketahui oleh umat Islam, selain Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W. Kedua-duanya merupakan manusia spesial, utusan Allah yang membawa berkah di muka bumi. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam untuk. mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh nabi dan rasul. Tidak bolehkah kita merayakan hari lahir (Natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi saw. juga merayakan hari keselamatan Musa a.s. dari gangguan Fir'aun dengan berpuasa 'Asyura, seraya bersabda, "Kita lebih wajar merayakannya daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s.. Juga, bukankah ada juga salam yang tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga Ilyas, serta para nabi lainnya?"2
Moment hari kelahiran Isa a.s ini Allah abadikan dalam Quran surah Maryam ayat 34, dan salam terhadap nabi Isa terekam dalam ayat 33 nya,
Artinya : Dan kesejahteraan semoga dianugerahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pda hari aku dibangkitkan lagi.
Dengan demikian, Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa a.s.3
Perayaan hari raya, seperti halnya hari raya umat Islam, tidak saja hanya berisi aspek ritual saja, namun terdapat juga aspek sosial. Contohnya adalah shalat Ied tatkala hari raya Idul Fitri, ini adalah salah satu aspek ritual. Sedangkan perayaan-perayaan lebaran yang dilakukan berbeda-beda setiap tempat—seperti sungkeman, bersalam-salaman, mudik, dan saling menukar ucapan selamat Lebaran—merupakan salah satu contoh aspek sosial dalam Idul Fitri.
Dalam aspek yang pertama (ritual), orang non Muslim tentu saja tidak berhak untuk mengikutinya karena hal itu adalah aktivitas eksklusif bagi penganut Islam saja. Sedangkan dalam aspek sosial yang atmosfir keceriannya terasa bukan saja oleh umat Muslim saja, umat non Muslimpun tidak menjadi masalah kalau mereka ikut ambil bagian dalam keceriaan ini, seperti mengucapkan selamat Lebaran, ikut saling maaf–memaafkan atau sekedar makan ketupat bersama-sama. Karena aspek sosial ini bukan ekslusif untuk umat Muslim saja, tetapi aspek sosial ini lebih berkarakter mu’amallah. Dan dalam hal mu’amallah atau interaksi ini, Islam sangatlah insklusif, seperti tercermin dalam Surah Al-Maidah ayat 5.
Maka, ucapan selamat Natal itu masuk ke dalam aspek yang mana? Aspek sosial ataukah aspek ritual? Kalau menurut Penulis, jawabannya adalah aspek sosial, sama halnya dengan ucapan lebaran atau saling bersalam-salaman pada saat Hari Raya Idul Fitri,. Konsekwensinya adalah umat Muslim yang mengucapkan selamat Natal kepada orang Kristen itu adalah tidak terlarang. Kalau ikut dalam aspek ritualnya, baru itu yang terlarang.
Bagaimana dengan ketakutan-ketakutan adanya pengkaburan aqidah karena Isa Almasih itu dipahami dan dipandang sangat berbeda oleh umat Kristen? Jadi, seakan-akan kalau kita mengucapkan selamat Natal berarti kita telah menyetujui pandangan orang-orang Kristen terhadap Isa Al-Masih yang nyata-nyata berbeda dengan persepsi Islam.
Penulis jawab, ketakutan itu tidak beralasan. Karena dengan kita mengucapkan selamat Natal kepada orang Kristen, tidak berarti kita menyetujui pandangan mereka terhadap Isa Al-Masih. Kita berbicara selamat Natal, hanya merupakan bentuk interaksi sosial saja. Seperti Nabi Muhammad yang berdiri memberikan penghormatan tatkala ada rombongan yang menghantarkan jenazah seorang kafir. Apakah dengan nabi berdiri ikut memberikan penghormatan, berarti beliau ikut serta mengiyakan kekafiran orang tersebut? Kita pahami sikap Nabi itu sebagai bentuk interaksi sosial saja.
Namaun, kalau saja masih ada ketakutan, di Sini Penulis cantumkan argumen dari Prof. Dr. Quraish Shihab,
“Dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan, Al-Quran memperkenalkan satu bentuk redaksi, dimana lawan bicara memahaminya sesuai dengan pandangan atau keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh pengucapnya. Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan keyakinannya. Salah satu contoh yang dikemukakan adalah ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34:24-25. Kalaupun non-Muslim memahami ucapan "Selamat Natal" sesuai dengan keyakinannya, maka biarlah demikian, karena Muslim yang memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai dengan garis keyakinannya. Memang, kearifan dibutuhkan dalam rangka interaksi sosial.”
Selain itu, problem lain dalam hal ini adalah anggapan bahwa hal itu termasuk kategori "man tasyabbaha bi qaumin fa huwa minhum" (barangsiapa meniru suatu kelompok, maka ia sama dengan mereka). Menurut hemat Penulis, pandangan ini jangan terlalu mudah untuk digeneralisasikan terhadap semua masalah, karena kita bukanlah alien, yang terasing dari “dunia luar”. Kadang kita perlu—bahkan wajib—meniru ilmu dari bangsa lain, seperti yang dilakukan oleh para sarjana Islam masa lampau yang menimba ilmu sampai ke negeri Yunani, Persia, dan bangsa-bangsa lain. Apa kita salah meniru bangsa lain yang pencapaian-pencapaian teknologinya sudah lebih canggih daripada bangsa kita? Oleh agama, kita dilarang meniru atau mengikuti itu dalam hal-hal yang negatif, seperti Allah melarang membunuh anak-anak perempuan yang dulu sering dipraktekan oleh kaum jahiliyah.
Terakhir, momoent hari raya ini dapat kita jadikan sebagai ajang ta’aruf, saling mengenal dalam artian perkenalan yang harmonis, pro-eksistensi, bukan "ta'ayusy" dan "takhashum". Ta'ayusy pada dasarnya adalah sejenis indifferentisme atau hidup berdampingan tanpa memperdulikan yang lain. Takhashum adalah hidup berdampingan dengan cara bermusuhan. Kedua sikap itu tidak sesuai dengan etika Qur'ani.4 Dengan saling ber ta’aruf antar sesama umat, sesama manusia, mudah-mudahan kita lebih dapat memperlihatkan Islam yang damai, Islam yang santun, Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
(Tulisan ini disampaikan dalam acara tamhid dan khalaqah Pemuda Persis Sumedang Selatan di Mesjid Al-Furqon Sumedang).
1 Ulil Abshar-Abdalla, Pendapat Islam Liberal Tentang Perayaan Natal, islamlib.com, 27/12/2004.
2 Quraish Shihab, Selamat Natal Menurut Al-Qur'an, Serambi Online, 18-Desember-2006.
3 Ibid.
4 Ulil Abshar Abdalla, Loc.Cit.

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda